Guru dan Pembelajar Sepanjang Hayat

Aktifitas kegiatan dan best practice dalam kegiatan pembelajaran.

Kolaborasi Dalam Berbagi Aksi

Sahabat Teknologi Sumatera Selatan Tahun 2024 dalam Pembelajaran Berbasis TIK

Teknologi itu bisa menjadi Asyik, Seru, Interaktif dan Menyenangkan

Guru harus mampu menyesuaikan dengan kodrat zaman, kreatif, inovatif dalam Pembelajaran

Create Your Future

Ingin mengubah dunia? Mulailah dengan mengubah dirimu sendiri

Embrace the Challenge and Believe your self

Dengan merangkul setiap tantangan dan percaya pada diri sendiri, kamu akan membuka pintu menuju kesuksesan yang tak terbatas

Mengenai Saya

Foto saya
Seorang guru dan pembelajar sepanjang hayat

Sabtu, 25 Juli 2026

Dari Pengguna Menjadi Pencipta: Perjalanan Guru Mengembangkan Pembelajaran Berbantu AI

 

Saya Guru Agama, Bukan Ahli Komputer

Saya adalah guru Pendidikan Agama Islam. Saya tidak memiliki latar belakang pendidikan komputer, teknologi informasi, ataupun pemrograman. Istilah seperti kode, basis data, hosting, domain, dan server dahulu terdengar sangat jauh dari kehidupan saya sebagai seorang guru. Namun, saya memiliki satu kebiasaan yang terus mendorong saya untuk belajar: rasa ingin tahu.

Saya senang mencoba hal baru, terutama ketika teknologi tersebut dapat membantu pekerjaan guru. Bagi saya, teknologi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman. Teknologi menjadi alat yang dapat membantu pembelajaran lebih menarik, administrasi lebih tertata, dan pelayanan sekolah lebih mudah diakses. Perjalanan itu tidak dimulai dari keinginan untuk menjadi seorang programmer. Semuanya bermula dari kebutuhan sederhana dalam aktivitas sehari-hari sebagai guru.

Saya ingin membuat media pembelajaran yang tidak hanya berisi tulisan. Saya ingin perangkat pembelajaran dapat disusun lebih efektif. Saya ingin jurnal mengajar tidak sekadar menjadi tumpukan catatan. Saya juga ingin berbagai kegiatan dan layanan sekolah dapat didokumentasikan serta diakses dengan lebih baik. Dari kebutuhan-kebutuhan itulah saya mulai berkenalan lebih dekat dengan teknologi dan kecerdasan artifisial.

Berawal dari Kebutuhan di Ruang Kelas

Sebagai guru Pendidikan Agama Islam, saya menyadari bahwa tidak semua materi dapat disampaikan hanya melalui ceramah atau teks panjang. Beberapa materi membutuhkan visualisasi, cerita, ilustrasi, video, pertanyaan interaktif, dan aktivitas yang dapat membantu peserta didik memahami konteks pembelajaran.

Materi sejarah perkembangan Islam, misalnya, menjadi lebih menarik ketika disertai gambar, alur perjalanan tokoh, peta, ilustrasi peradaban, atau media interaktif. Peserta didik tidak hanya membaca informasi, tetapi juga memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai materi yang sedang dipelajari. Masalahnya, membuat media seperti itu membutuhkan waktu, ide, kemampuan desain, dan kadang-kadang pengetahuan teknis.

Pada titik inilah saya mulai memanfaatkan kecerdasan artifisial sebagai teman berdiskusi. Saya menggunakannya untuk mencari gagasan, menyusun alur materi, memperbaiki kalimat, merancang aktivitas, membuat pertanyaan, hingga membantu menghasilkan konsep visual.

Namun, saya tidak langsung mengambil semua hasil yang diberikan oleh AI. Setiap materi tetap saya periksa dan sesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakter peserta didik, nilai-nilai keagamaan, serta kondisi sekolah. AI membantu mempercepat proses awal. Guru tetap menentukan hasil akhirnya.

Belajar dengan Cara Bertanya dan Mencoba

Ketika mulai belajar membuat media dan aplikasi, saya sering tidak mengetahui istilah teknis yang tepat. Saya hanya menjelaskan kebutuhan dengan bahasa sederhana. Saya mengatakan bahwa saya ingin membuat halaman pembelajaran yang memiliki tombol, gambar, materi, dan pertanyaan. Saya ingin data jurnal guru dapat tersimpan. Saya ingin website dapat dibuka dengan baik melalui telepon genggam. Saya ingin membuat portal yang dapat digunakan untuk menghimpun data alumni. Dari percakapan sederhana itu, AI membantu menerjemahkan kebutuhan saya menjadi langkah-langkah yang lebih teknis.

Saya mulai mengenal Visual Studio Code, Google Apps Script, Supabase, Netlify, dan berbagai perangkat pendukung lainnya. Saya belajar menyalin kode, menempatkannya pada bagian yang sesuai, menjalankan halaman, lalu melihat hasilnya. Tentu saja prosesnya tidak selalu berjalan lancar.

Ada halaman yang tidak tampil sesuai harapan. Ada tombol yang tidak berfungsi. Ada data yang gagal tersimpan. Ada tampilan yang terlihat bagus di laptop tetapi berantakan ketika dibuka melalui telepon genggam. Ada pula pesan kesalahan yang pada awalnya sama sekali tidak saya pahami. Ketika hal itu terjadi, saya membaca kembali pesan kesalahan, bertanya, mencoba memperbaiki, kemudian melakukan pengujian ulang.

Dari proses tersebut, saya memahami bahwa AI bukan mesin ajaib yang langsung menghasilkan karya sempurna. AI dapat membantu memberikan arah, tetapi hasil yang baik tetap membutuhkan ketelitian, kesabaran, pengujian, dan kemauan untuk terus memperbaiki.

Membuat Media Pembelajaran Berbantu AI

Media pembelajaran interaktif PAI kelas XI yang dikembangkan untuk membantu peserta didik belajar secara lebih menarik dan terstruktur.

Pemanfaatan teknologi yang paling dekat dengan peran saya adalah pembuatan media pembelajaran. Saya menggunakan AI untuk membantu mengembangkan ide menjadi konsep pembelajaran yang lebih menarik. Materi yang semula hanya berupa teks dapat dikembangkan menjadi tampilan digital yang memadukan gambar, video, navigasi, pertanyaan, dan aktivitas. Tujuannya bukan sekadar agar pembelajaran terlihat modern. Media tersebut harus membantu peserta didik memahami materi, mempertahankan perhatian, serta memberi kesempatan untuk membuka kembali pembelajaran ketika dibutuhkan.

Saya juga memanfaatkan AI dalam penyusunan perangkat ajar dan lembar kerja peserta didik. AI membantu memberikan alternatif struktur, kegiatan, pertanyaan pemantik, dan pilihan redaksi. Setelah itu, saya melakukan penyesuaian berdasarkan capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, alokasi waktu, karakter materi, dan kebutuhan peserta didik. Teknologi mempercepat pekerjaan, tetapi keputusan pedagogis tetap berada di tangan guru.

Menurut saya, hal inilah yang perlu dipahami ketika menggunakan AI dalam pendidikan. Guru tidak cukup hanya mampu memberikan perintah kepada AI. Guru juga harus mampu menilai apakah hasilnya tepat, relevan, aman, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Dari Administrasi Manual ke Jurnal Mengajar Digital

PAI Smart Class yang digunakan untuk membantu pengelolaan materi, absensi, nilai, tugas, jurnal, dan rekap pembelajaran.


Selain untuk media pembelajaran, saya mulai menggunakan teknologi untuk membantu administrasi guru. Salah satu yang saya kembangkan adalah aplikasi jurnal mengajar. Gagasan ini muncul karena jurnal mengajar memiliki fungsi penting, tetapi pencatatan secara manual terkadang kurang praktis.

Saya ingin jurnal mengajar tidak sekadar menjadi bukti bahwa pembelajaran telah dilaksanakan. Jurnal juga harus dapat membantu guru melihat kembali materi yang telah disampaikan, kehadiran peserta didik, catatan pembelajaran, kendala yang ditemukan, dan tindak lanjut yang perlu dilakukan.

Dengan bantuan AI, saya mulai menyusun kebutuhan aplikasi. Saya menentukan informasi yang perlu dicatat, merancang formulir, mengatur tampilan, dan mempelajari cara menyimpan data. Saya menggunakan Visual Studio Code untuk mengembangkan aplikasinya dan Supabase sebagai salah satu tempat penyimpanan data. Semua itu saya pelajari sambil praktik.

Saya pernah harus mengulang bagian tertentu karena struktur data belum sesuai. Saya pernah menemukan fungsi yang tidak berjalan dan tampilan yang perlu diperbaiki. Namun, setiap kesalahan justru membantu saya memahami cara kerja aplikasi sedikit demi sedikit.

Aplikasi jurnal mengajar tersebut menjadi salah satu bukti bagi diri saya bahwa guru dapat menciptakan alat bantu berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru tidak harus menunggu aplikasi yang sempurna dari pihak lain. Kita dapat memulai dari fungsi sederhana, menggunakannya, mengevaluasi kekurangannya, lalu mengembangkannya secara bertahap.

Teknologi untuk Mendukung Layanan Sekolah

Beberapa layanan digital sekolah yang dikembangkan untuk mendukung dokumentasi, informasi, dan pelayanan warga sekolah.

Perjalanan belajar saya kemudian berkembang dari kebutuhan pembelajaran menuju kebutuhan layanan sekolah. Saya mulai membuat berbagai website dan layanan digital yang dapat membantu penyampaian informasi, pengelolaan data, dokumentasi, serta komunikasi dengan warga sekolah.

Salah satu yang saya kembangkan adalah Portal Alumni SMAN 4 Lubuklinggau. Portal tersebut dirancang sebagai ruang untuk menghimpun data alumni, menjaga silaturahmi, berbagi perjalanan setelah lulus, dan membangun jaringan alumni sekolah. Dalam proses pembuatannya, saya belajar mengembangkan halaman pendaftaran, sistem persetujuan data, daftar alumni, profil alumni, unggah foto, serta dashboard pengelolaan.

Saya juga mengembangkan website untuk kegiatan ekstrakurikuler, arsip digital kegiatan sekolah, media dokumentasi, dan berbagai rancangan aplikasi layanan lainnya. Setiap produk berawal dari kebutuhan yang berbeda. Ada yang bertujuan mengenalkan kegiatan sekolah kepada peserta didik. Ada yang membantu menyimpan dokumentasi. Ada yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Ada pula yang dirancang agar layanan tertentu dapat dilakukan dengan lebih tertata.

Walaupun beberapa aplikasi tersebut tidak digunakan secara langsung dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, prosesnya tetap menjadi bagian dari peran saya sebagai pendidik. Sekolah bukan hanya ruang kelas. Sekolah adalah sebuah ekosistem. Informasi yang tertata, dokumentasi yang mudah ditemukan, dan layanan digital yang mudah digunakan dapat mendukung peserta didik, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan alumni.

Perubahan Terbesar Terjadi dalam Diri Saya

Dari perjalanan ini, perubahan terbesar sebenarnya bukan hanya jumlah media atau aplikasi yang berhasil saya buat. Perubahan terbesar terjadi pada cara saya melihat kemampuan diri sendiri.

Dahulu, ketika melihat kode atau menemukan pesan kesalahan, saya langsung merasa bahwa hal tersebut berada di luar kemampuan saya. Sekarang, saya mencoba melihatnya sebagai masalah yang dapat dipecah menjadi bagian-bagian kecil. Saya mungkin belum memahami semuanya. Namun, saya dapat mempelajari satu bagian terlebih dahulu. Saya dapat bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, kemudian mencoba kembali. Setiap keberhasilan kecil menumbuhkan keberanian untuk mempelajari hal berikutnya.

Saya belajar bahwa tidak memiliki dasar komputer bukan alasan untuk berhenti. Latar belakang pendidikan memang dapat membantu, tetapi kemauan belajar, ketekunan, dan keberanian mencoba juga memiliki peran yang sangat besar. Teknologi membuat saya tidak hanya menjadi pengguna. Saya mulai belajar menjadi perancang solusi.

Ketika menemukan kebutuhan, saya tidak lagi hanya mencari aplikasi yang telah tersedia. Saya mulai berpikir: apakah saya dapat membuat alat yang lebih sesuai dengan kondisi sekolah? Apakah tampilannya mudah dipahami? Apakah dapat dibuka melalui telepon genggam? Apakah fitur yang dibuat benar-benar diperlukan?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat proses belajar teknologi terasa lebih dekat dengan tugas saya sebagai guru.

AI Tetap Membutuhkan Nilai dan Pertimbangan Guru

Sebagai guru Pendidikan Agama Islam, saya menyadari bahwa penggunaan teknologi harus selalu disertai tanggung jawab. AI dapat membantu menyusun materi, tetapi guru harus memeriksa kebenarannya. AI dapat memberikan ide, tetapi guru harus menentukan kesesuaiannya. AI dapat menghasilkan tulisan, desain, atau kode, tetapi guru harus memastikan hasil tersebut tidak bertentangan dengan nilai, etika, dan tujuan pendidikan.

Hal ini semakin penting ketika berkaitan dengan materi keagamaan. Setiap penjelasan perlu diperiksa. Bahasa harus dijaga. Konteks harus diperhatikan. Guru tidak boleh menyerahkan sepenuhnya proses berpikir dan penilaian kepada mesin.

Saya juga semakin memahami pentingnya menjaga data pribadi. Tidak semua informasi boleh dimasukkan ke dalam layanan AI atau ditampilkan melalui website. Dalam mengembangkan layanan digital sekolah, keamanan akun, pengaturan akses, izin pengguna, dan pengelolaan data perlu menjadi perhatian.

Bagi saya, AI tidak menggantikan guru. AI membantu guru memperluas kemampuan. Guru tetap menjadi pihak yang memahami peserta didik, menanamkan nilai, memberikan keteladanan, menentukan tujuan, dan mengambil keputusan. Teknologi dapat membantu membuat media. Namun, makna pembelajaran tetap tumbuh dari interaksi antara guru, peserta didik, materi, dan pengalaman belajar.

Belajar Tidak Harus Menunggu Menjadi Ahli

Dari perjalanan ini, saya memperoleh beberapa pelajaran.

Pertama, mulailah dari kebutuhan yang benar-benar dirasakan. Produk sederhana yang menyelesaikan masalah akan lebih berguna daripada aplikasi rumit yang tidak digunakan.

Kedua, jangan menunggu sampai merasa ahli. Kemampuan justru tumbuh ketika kita mulai mencoba.

Ketiga, gunakan AI sebagai teman belajar, bukan sebagai jalan pintas untuk menyerahkan seluruh proses berpikir.

Keempat, selalu lakukan pemeriksaan dan penyuntingan. Hasil AI tidak selalu tepat dan belum tentu sesuai dengan kebutuhan kita.

Kelima, jangan takut terhadap kegagalan teknis. Tombol yang tidak berfungsi, tampilan yang berantakan, atau data yang belum terhubung adalah bagian dari proses belajar.

Keenam, dokumentasikan proses dan hasil. Dokumentasi dapat menjadi bahan evaluasi, rekam jejak perkembangan, serta inspirasi bagi orang lain.

Saya tidak beranggapan bahwa setiap guru harus mampu membuat aplikasi. Setiap guru memiliki kebutuhan, kemampuan, dan cara bertumbuh yang berbeda. Ada guru yang memulai dengan membuat presentasi. Ada yang menggunakan AI untuk menyusun pertanyaan. Ada yang membuat video pembelajaran. Ada yang memperbaiki administrasi. Ada pula yang mulai mengembangkan website atau aplikasi sederhana. Tidak harus sama. Yang terpenting adalah teknologi benar-benar digunakan untuk mendukung pendidikan.

Dari Pengguna, Saya Memilih Terus Bertumbuh

Proses belajar dan pengembangan teknologi dilakukan secara bertahap melalui praktik, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan.

Perjalanan dari pengguna menjadi pencipta telah mengubah cara saya menjalankan peran sebagai guru. Saya tetap seorang guru Pendidikan Agama Islam tanpa latar belakang komputer. Namun, saya tidak lagi melihat keterbatasan itu sebagai penghalang.

Rasa ingin tahu, kemauan belajar, dan bantuan teknologi membuat saya mampu menghasilkan media pembelajaran, membantu administrasi guru, mengembangkan aplikasi jurnal mengajar, serta membangun beberapa layanan digital sekolah.

Apa yang saya hasilkan tentu belum sempurna. Setiap media dan aplikasi masih dapat diperbaiki, dikembangkan, dan disesuaikan. Namun, justru di situlah makna perjalanan ini.

Menjadi pencipta tidak berarti harus mengetahui semuanya. Menjadi pencipta berarti berani memulai, memahami kebutuhan, mencoba membuat solusi, kemudian terus memperbaikinya agar semakin bermanfaat.

Saya percaya guru tidak harus menjadi ahli komputer untuk mulai memanfaatkan teknologi. Guru hanya perlu memiliki keberanian untuk mencoba, kerendahan hati untuk terus belajar, dan komitmen agar setiap inovasi tetap berpihak kepada peserta didik serta kemajuan sekolah.

Dari seorang pengguna, saya memilih terus bertumbuh menjadi pencipta. Bukan untuk meninggalkan peran saya sebagai guru, tetapi untuk menguatkan pengabdian melalui cara-cara baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

#Lombaartikelguru #ArtikelprotasGTK #Gurumenulis #KecerdasanArtifisial #TeknologiPendidikan #GuruPembelajar #GrowthMindset