Guru dan Pembelajar Sepanjang Hayat

Aktifitas kegiatan dan best practice dalam kegiatan pembelajaran.

Kolaborasi Dalam Berbagi Aksi

Sahabat Teknologi Sumatera Selatan Tahun 2024 dalam Pembelajaran Berbasis TIK

Teknologi itu bisa menjadi Asyik, Seru, Interaktif dan Menyenangkan

Guru harus mampu menyesuaikan dengan kodrat zaman, kreatif, inovatif dalam Pembelajaran

Create Your Future

Ingin mengubah dunia? Mulailah dengan mengubah dirimu sendiri

Embrace the Challenge and Believe your self

Dengan merangkul setiap tantangan dan percaya pada diri sendiri, kamu akan membuka pintu menuju kesuksesan yang tak terbatas

Mengenai Saya

Foto saya
Seorang guru dan pembelajar sepanjang hayat

Minggu, 31 Mei 2026

Membuat Poster Hari Lahir Pancasila

 


Membuat Poster Hari Lahir Pancasila dengan Foto Sendiri Menggunakan ChatGPT

Merayakan Hari Lahir Pancasila dengan Sentuhan Budaya Daerah

Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni merupakan momentum penting untuk menumbuhkan kembali semangat kebangsaan, persatuan, dan kecintaan terhadap Indonesia. Salah satu cara kreatif untuk memeriahkan peringatan ini adalah dengan membuat poster bertema Pancasila yang menampilkan identitas budaya daerah masing-masing.

Kini, dengan bantuan teknologi Artificial Intelligence (AI) di ChatGPT, siapa saja dapat membuat poster profesional hanya dengan mengunggah foto dan menggunakan prompt yang tepat. Hasilnya tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menampilkan kekayaan budaya Nusantara yang beragam.

Mengapa Menggunakan Poster Berbasis AI?

Poster yang dihasilkan AI memiliki beberapa keunggulan:

  • Lebih personal karena menggunakan foto sendiri.
  • Menampilkan identitas budaya daerah secara autentik.
  • Cocok untuk publikasi sekolah, instansi, maupun media sosial.
  • Proses pembuatan cepat tanpa harus menguasai aplikasi desain.
  • Hasil visual berkualitas tinggi dengan gaya sinematik modern.

Cara Membuat Poster Hari Lahir Pancasila di ChatGPT

Langkah-langkahnya sangat mudah:

1. Buka ChatGPT

Masuk ke aplikasi atau website ChatGPT yang sudah mendukung fitur pembuatan gambar.

2. Pilih Menu "Buat Gambar"

Pilih fitur pembuatan gambar (Create Image).

3. Upload Foto

Unggah foto yang ingin dijadikan tokoh utama pada poster.

4. Salin dan Tempel Prompt

Gunakan prompt yang telah disediakan pada artikel ini.

5. Tekan Enter

Tunggu beberapa saat hingga proses generasi gambar selesai.

6. Unduh dan Gunakan

Poster siap digunakan dan dibagikan.

Keunggulan Prompt Ini

Prompt dirancang agar dapat digunakan oleh siapa saja di seluruh Indonesia. Anda hanya perlu mengganti bagian nama daerah sesuai asal wilayah masing-masing.

Dengan cara ini, poster akan menampilkan:

  • Rumah adat daerah
  • Pakaian adat
  • Kain tradisional
  • Tarian daerah
  • Alat musik tradisional
  • Kuliner khas
  • Landmark terkenal daerah

Sehingga tercipta perpaduan harmonis antara nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal.

Prompt ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)

Silakan salin prompt berikut dan ganti bagian yang berada dalam tanda kurung sesuai daerah masing-masing.

---

Buat poster Hari Lahir Pancasila format vertikal (4:5) dengan karakter yang diunggah sebagai tokoh utama. Karakter mengenakan busana khas daerah asalnya (NAMA DAERAH/PROVINSI).

Latar belakang menampilkan kekayaan budaya daerah (NAMA DAERAH/PROVINSI) seperti rumah adat, kain tradisional, tarian daerah, alat musik tradisional, kuliner khas, serta ikon daerah yang terkenal. Garuda Pancasila tampak menyatu secara elegan di bagian atas poster.

Komposisi menampilkan harmoni antara budaya lokal dan semangat kebangsaan Indonesia. Dominasi warna merah putih dipadukan warna khas budaya daerah. Gaya visual 3D sinematik, detail tinggi, hangat, edukatif, dan membanggakan.

Bagian atas:

"HARI LAHIR PANCASILA"

"1 JUNI 2026"

Judul Utama:

"PANCASILA DALAM KEARIFAN LOKAL"

Subjudul:

"Budaya Daerah, Semangat Indonesia"

Tampilkan unsur budaya khas (NAMA DAERAH/PROVINSI) secara autentik dan detail, termasuk rumah adat, pakaian adat, motif kain tradisional, alat musik, tarian, makanan khas, serta landmark terkenal daerah tersebut. Tambahkan bendera Merah Putih yang berkibar dinamis, pencahayaan keemasan sinematik, suasana nasionalisme yang kuat, komposisi poster profesional, ultra detailed, cinematic lighting, masterpiece, premium 3D render, high quality national celebration poster.

---

Penutup

Teknologi AI membuka peluang baru bagi guru, siswa, dan masyarakat untuk membuat media visual yang menarik sekaligus bermakna. Melalui poster Hari Lahir Pancasila berbasis budaya daerah, kita tidak hanya memperingati lahirnya dasar negara, tetapi juga merayakan keberagaman Indonesia yang menjadi kekuatan bangsa.

Selamat mencoba dan semoga karya Anda dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk semakin mencintai Pancasila dan budaya Indonesia.

Salam Merdeka!

Poster & Prompt AI: @guruupgradeid | Hari Lahir Pancasila 2026 🇮🇩

Sabtu, 16 Mei 2026

AI yang Kerjakan atau Kamu? Refleksi Seorang Guru tentang Pembelajaran di Era Kecerdasan Buatan

 

AI yang Kerjakan atau Kamu?

Refleksi Seorang Guru tentang Pembelajaran di Era Kecerdasan Buatan

Ika Lathifah, S.Pd.I, M.Pd


Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Hari ini, siswa dapat mencari informasi dalam hitungan detik, membuat presentasi yang menarik, bahkan menyusun tugas dengan bahasa yang rapi dan terlihat profesional. Teknologi hadir mempermudah banyak hal, termasuk dalam proses belajar. Sebagai guru, tentu saya merasa bahagia melihat peserta didik semakin dekat dengan dunia digital dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Namun di balik kemudahan itu, saya mulai menyadari sebuah perubahan yang menarik perhatian. Beberapa waktu terakhir, tugas siswa terlihat sangat sempurna. Kalimatnya tersusun rapi, analisisnya mendalam, dan pilihan katanya terdengar sangat “dewasa”. Sekilas, hasil tersebut tampak membanggakan. Akan tetapi, ada sesuatu yang terasa berbeda. Tulisan itu tidak lagi terdengar seperti suara mereka sendiri.

Sebagai guru, saya mengenal karakter siswa-siswa saya. Saya tahu bagaimana cara mereka berbicara, bagaimana mereka mengekspresikan ide, bahkan bagaimana gaya mereka menyampaikan pendapat di kelas. Ketika saya membaca beberapa tugas yang begitu seragam, saya mulai bertanya dalam hati: “Apakah mereka benar-benar belajar, atau hanya menyerahkan proses berpikir kepada AI?”

Pertanyaan itu membuat saya merenung cukup lama. Di satu sisi, teknologi memang tidak bisa dihindari. Dunia akan terus berubah dan pendidikan tidak mungkin berjalan dengan cara lama selamanya. Namun di sisi lain, saya juga menyadari bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya tentang hasil akhir yang terlihat sempurna. Pendidikan adalah tentang proses berpikir, proses memahami, proses mencoba, gagal, lalu belajar kembali.

Akhirnya, pada suatu pertemuan di kelas, saya mencoba membuka diskusi sederhana dengan siswa. Saya tidak ingin langsung melarang atau menghakimi mereka. Saya hanya bertanya dengan jujur, “Siapa yang menggunakan AI untuk membantu mengerjakan tugas?”

Kelas mendadak hening. Sebagian siswa menunduk, beberapa saling melihat satu sama lain. Setelah beberapa detik, perlahan ada tangan yang terangkat. Lalu disusul tangan-tangan lainnya. Saya bisa melihat keraguan dan ketakutan di wajah mereka. Mungkin mereka mengira akan dimarahi atau dianggap malas belajar.

Tetapi saya justru tersenyum.

Saya mengatakan kepada mereka bahwa AI bukan musuh. Teknologi hanyalah alat. Yang perlu diperhatikan bukan sekadar boleh atau tidak menggunakannya, melainkan bagaimana cara menggunakannya dengan bijak. Saya tidak ingin siswa takut terhadap teknologi, tetapi saya juga tidak ingin mereka kehilangan kemampuan berpikir karena terlalu bergantung pada jawaban instan.

Lalu saya mengajukan satu pertanyaan yang kemudian membuat suasana kelas berubah menjadi lebih reflektif.

“Kalau AI bisa menulis tugas, lalu apa yang membuat manusia tetap penting?”

Kelas kembali sunyi. Namun kali ini sunyinya berbeda. Mereka mulai berpikir.

Seorang siswa menjawab pelan, “Karena manusia punya perasaan, Bu.”

Yang lain menambahkan, “Karena manusia punya pengalaman hidup.”

Ada juga yang berkata, “Karena manusia bisa memahami makna, bukan hanya memberi jawaban.”

Saat itu saya merasa lega. Saya sadar bahwa mereka sebenarnya memahami nilai penting menjadi manusia. Mereka hanya hidup di zaman yang menawarkan segala sesuatu dengan cepat dan instan. Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat penting: bukan sekadar mengajarkan pengetahuan, tetapi membantu siswa menemukan makna dalam proses belajar.

Saya percaya AI seharusnya digunakan untuk memperdalam pembelajaran, bukan menggantikan usaha. Teknologi dapat membantu siswa mencari referensi, memahami konsep yang sulit, menemukan sudut pandang baru, bahkan memicu kreativitas. Namun teknologi tidak boleh membuat mereka berhenti berpikir.

Karena sejatinya, kemampuan yang paling dibutuhkan di masa depan bukan hanya kemampuan menjawab soal, tetapi kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, berempati, dan memecahkan masalah nyata dalam kehidupan.

Sejak diskusi itu, saya mulai mengubah beberapa pendekatan pembelajaran di kelas. Saya tidak lagi hanya fokus pada hasil akhir tugas siswa. Saya ingin mendengar bagaimana proses mereka menemukan jawaban. Saya meminta mereka menjelaskan sumber informasi yang digunakan, alasan memilih suatu pendapat, hingga bagaimana mereka memaknai pelajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Perubahan kecil itu ternyata membawa dampak yang besar. Siswa mulai lebih berani berdiskusi dan menyampaikan ide dengan bahasa mereka sendiri. Mereka tidak lagi hanya mengejar tugas selesai, tetapi mulai menikmati proses belajar. Mereka juga menjadi lebih terbuka tentang bagaimana mereka menggunakan AI. Ada yang memakai AI untuk mencari inspirasi, ada yang menggunakannya untuk memahami materi, dan ada pula yang memanfaatkannya untuk melatih kemampuan menulis.

Di situlah saya semakin yakin bahwa pendidikan di era digital membutuhkan growth mindset. Siswa perlu memahami bahwa kecerdasan bukan tentang siapa yang paling cepat menghasilkan jawaban sempurna. Kecerdasan adalah tentang kemauan untuk terus belajar, mencoba, memperbaiki diri, dan berkembang.

Teknologi memang akan terus berkembang. Bahkan mungkin beberapa tahun ke depan AI akan menjadi jauh lebih canggih daripada hari ini. Namun secanggih apa pun teknologi, tetap ada hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin: empati, nilai kehidupan, pengalaman manusia, kreativitas yang lahir dari perjuangan, serta kemampuan untuk memahami makna di balik setiap proses.

Sebagai guru, saya percaya tugas kita bukan melawan perkembangan teknologi. Tugas kita adalah membimbing generasi muda agar mampu menggunakan teknologi dengan bijak tanpa kehilangan jati dirinya sebagai manusia.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang siapa yang mampu membuat tugas paling sempurna. Pendidikan adalah tentang siapa yang benar-benar belajar, bertumbuh, dan menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya.

Minggu, 04 Januari 2026

Cara Membuat Jurnal Digital Mata Pelajaran Menggunakan AI Canva: Panduan Lengkap untuk Guru

 


Halo, para guru hebat! Di era digital seperti sekarang, mengelola jurnal nilai, absensi, dan catatan harian mengajar bisa lebih mudah dan efisien dengan bantuan teknologi. Salah satu tools yang powerful adalah AI Canva, yang memungkinkan kita membuat aplikasi web sederhana tanpa perlu coding rumit. Dalam artikel ini, saya akan bagikan cara membuat jurnal digital mata pelajaran (misalnya PAI atau mata pelajaran lain) menggunakan AI Canva. Prompt yang digunakan bisa Anda copy langsung dari link Google Docs ini dan modifikasi sesuai kebutuhan, seperti mengganti nama mata pelajaran atau menambah fitur.

Prompt ini dirancang untuk membuat aplikasi dengan fitur lengkap: mode guru dan siswa, nilai, absensi, jurnal harian mengajar, serta sidebar navigasi seperti e-raport. Semua data disimpan di Canva Sheet (sejenis spreadsheet sederhana di Canva) untuk kemudahan akses. Yuk, ikuti langkah-langkahnya!.

Mengapa Gunakan AI Canva untuk Jurnal Digital?

Sebelum mulai, kenapa AI Canva? Tools ini gratis (versi basic), mudah digunakan, dan bisa menghasilkan aplikasi web responsif yang bisa dibuka di HP atau laptop. Cocok untuk guru yang ingin punya sistem pribadi tanpa server mahal. Hasilnya bisa dibagikan ke siswa via link, dan Anda bisa tambah gambar background untuk tampilan lebih menarik.

Langkah-Langkah Membuat Jurnal Digital di AI Canva

1. Buka Canva dan Masuk ke AI Canva


Buka situs Canva di browser Anda (sebaiknya Chrome untuk performa optimal). Jika belum punya akun, daftar gratis menggunakan email atau Google. Di halaman awal Canva, klik Canva Ai. Pilih Canva AI untuk masuk ke mode AI generator.

2. Pilih Opsi "Code" atau "Kode"

Di dalam Canva AI, cari opsi untuk membuat aplikasi atau konten berbasis kode. Klik bagian kode itu untuk masuk ke editor AI Code. Di sini, Anda akan melihat kotak prompt untuk memasukkan instruksi pembuatan aplikasi.

3. Masukkan Prompt yang Sudah Ada

Copy prompt lengkap dari Google Docs ini. Prompt ini sudah terstruktur dengan nomor poin (1-13) untuk fitur seperti mode akses, kelas, nilai, absensi, sidebar, dan jurnal harian mengajar.

Tips jika prompt terlalu panjang (kelebihan kata):



AI Canva mungkin punya batas karakter. Jika error, masukkan sebagian dulu, misalnya sampai nomor 8 (sampai fitur absensi). Klik "Generate" atau "Create" untuk buat versi awal. Setelah berhasil, edit atau tambahkan prompt lanjutan (nomor 9 dan seterusnya) di kotak perintah yang sama. Prompt lanjutan bisa dimulai dengan "Tambahkan fitur berikut ke aplikasi yang sudah dibuat:" diikuti poin 9-12.

Contoh Prompt Awal (sampai nomor 8 – copy langsung dari Docs).

Prompt Lanjutan (nomor 9-12 – masukkan setelah versi awal jadi): Copy dari Docs untuk bagian integrasi, jurnal harian, dan tambahan umum. Modifikasi sesuai, misalnya ganti "mapel" dengan "PAI" jika mata pelajaran Anda Pendidikan Agama Islam.

4. Cek Hasil dan Perbaiki jika Belum Sesuai

Setelah AI generate kode, preview aplikasi di Canva. Jika ada yang kurang (misal fitur absensi tidak muncul atau desain tidak responsif), lihat kotak perintah di bawah bagian kiri editor. Masukkan instruksi perbaikan seperti: "Tambahkan tombol hapus siswa di mode guru" atau "Ubah warna sidebar menjadi hijau lebih tua". Klik generate ulang sampai puas.

5. Tambahkan Gambar Background atau Elemen Visual

Untuk membuat tampilan lebih menarik, upload gambar dulu ke situs gratis seperti imgbb.com atau freeimage.host. Pilih gambar bertema Islami atau pendidikan (misal pola hijau geometris atau foto kelas). Setelah upload, copy link tautan langsung (direct link, biasanya berakhiran .jpg atau .png).

Masukkan ke prompt AI Canva dengan instruksi seperti: 

"Tambahkan background gambar dengan URL ini: [paste link gambar]. Buat background full screen (cover), dengan overlay semi-transparan putih agar teks mudah dibaca. Pastikan responsif."

Generate ulang, dan gambar akan terintegrasi.

Tips Modifikasi Prompt Sendiri

  • Buka Google Docs link di atas, copy prompt, lalu edit di teks editor Anda. Misalnya, tambah fitur "hitung rata-rata nilai" di poin 4 atau ubah password default.
  • Jika ingin ekspor data ke PDF, tambahkan ke prompt: "Tambahkan tombol ekspor nilai dan absensi ke PDF menggunakan jsPDF."
  • Test aplikasi di browser berbeda untuk pastikan kompatibilitas.

Dengan cara ini, Anda bisa punya jurnal digital custom dalam hitungan menit! Jika ada kendala, coba versi Canva Pro untuk fitur lebih lengkap. Selamat mencoba, dan semoga bermanfaat untuk kegiatan mengajar Anda. Bagikan pengalaman di komentar ya! 😊

Cara Membuat Video Gratis dengan AI (ChatGPT, Grok, ElevenLabs, CapCut)


Cara membuat video gratis menggunakan AI dengan ChatGPT, Grok, ElevenLabs, dan CapCut. Cocok untuk edukasi, konten kreator, dan guru.


Di era digital saat ini, membuat video tidak lagi harus mahal atau ribet. Dengan bantuan Artificial Intelligence (AI), siapa pun, guru, pelajar, content creator, hingga pegiat edukasi bisa membuat video berkualitas secara gratis hanya bermodal ide dan sedikit kreativitas.
Pada artikel ini, saya akan membagikan alur lengkap membuat video gratis menggunakan AI, mulai dari membuat konsep, video, suara, hingga editing akhir. Tools yang digunakan adalah ChatGPT, Grok, ElevenLabs, dan CapCut.

Mengapa Menggunakan AI untuk Membuat Video?


Teknologi AI sangat membantu dalam proses kreatif karena:
  • Menghemat waktu
  • Tidak membutuhkan skill editing tingkat lanjut
  • Bisa menghasilkan konten edukatif dan kreatif
  • Cocok untuk video pendek (Reels, Shorts, TikTok)
  • Gratis atau tersedia versi gratis
  • Dengan AI, satu ide bisa langsung berubah menjadi video yang siap dibagikan.

Alur Pembuatan Video Gratis dengan AI

Berikut tahapan lengkapnya 👇

1. Membuat Konsep & Prompt Menggunakan ChatGPT

Langkah pertama adalah menyusun konsep video. Di ChatGPT, kita bisa meminta:

  • Prompt gambar (visual)
  • Prompt animasi
  • Prompt musik dan sound effect (SFX)
  • Naskah voice over (narasi)

Contoh permintaan:
“Buatkan prompt gambar dan animasi untuk video edukasi sejarah Islam, lengkap dengan musik dan voice over di setiap scene nya untuk durasi 3 menit, setiap scene durasi 8 detik.”

ChatGPT akan membantu menyusun semuanya secara terstruktur. Ini sangat memudahkan, terutama bagi yang belum terbiasa membuat storyboard atau naskah video.



2. Membuat Video Menggunakan Grok

Setelah mendapatkan prompt dari ChatGPT, langkah berikutnya adalah membuat video.
Caranya:
  • Buka Grok 
  • Pilih menu Buat Video
  • Salin dan tempel:
  • Prompt gambar
  • Prompt animasi
  • Prompt musik & SFX
Grok akan memproses prompt tersebut menjadi video visual sesuai deskripsi. Tahap ini fokus pada visual dan suasana video.

3. Membuat Voice Over dengan ElevenLabs

Agar video lebih hidup, dibutuhkan voice over.
  • Langkahnya:
  • Buka ElevenLabs
  • Pilih menu Text to Speech
  • Pilih karakter suara (male/female)
  • Gunakan model Multilingual agar Bahasa Indonesia terdengar jelas
  • Salin teks voice over dari ChatGPT
  • Generate suara
ElevenLabs menghasilkan suara yang natural dan profesional, sangat cocok untuk video storytelling atau edukasi.

4. Finishing Video Menggunakan CapCut

Tahap terakhir adalah editing dan penyatuan semua elemen.
Di CapCut, lakukan:
  • Gabungkan semua video dari Grok
  • Masukkan voice over dari ElevenLabs
  • Tambahkan musik dan SFX
  • Atur timing agar sinkron
  • Tambahkan teks overlay (judul, penekanan poin penting)
CapCut sangat ramah pengguna, bahkan untuk editing lewat HP.
Hasil Akhir: Video Edukatif Siap Publikasi
Dengan alur ini, kita bisa menghasilkan:
  • Video edukasi
  • Video storytelling
  • Video sejarah
  • Video tutorial
  • Konten media sosial sekolah
Semua dibuat tanpa biaya besar, hanya dengan memanfaatkan AI secara bijak dan kreatif.

Teknologi AI bukan untuk menggantikan kreativitas manusia, tetapi membantu mempercepat dan mempermudah proses berkarya. Dengan kombinasi ChatGPT, Grok, ElevenLabs, dan CapCut, siapa pun bisa membuat video berkualitas meski dari nol.
Semoga tutorial ini bermanfaat dan bisa menginspirasi kamu untuk mulai berkarya dengan AI 🚀