Guru dan Pembelajar Sepanjang Hayat

Aktifitas kegiatan dan best practice dalam kegiatan pembelajaran.

Kolaborasi Dalam Berbagi Aksi

Sahabat Teknologi Sumatera Selatan Tahun 2024 dalam Pembelajaran Berbasis TIK

Teknologi itu bisa menjadi Asyik, Seru, Interaktif dan Menyenangkan

Guru harus mampu menyesuaikan dengan kodrat zaman, kreatif, inovatif dalam Pembelajaran

Create Your Future

Ingin mengubah dunia? Mulailah dengan mengubah dirimu sendiri

Embrace the Challenge and Believe your self

Dengan merangkul setiap tantangan dan percaya pada diri sendiri, kamu akan membuka pintu menuju kesuksesan yang tak terbatas

Mengenai Saya

Foto saya
Seorang guru dan pembelajar sepanjang hayat

Selasa, 13 Oktober 2026

2 Media AR, 2 Platform AI! Eksperimen Motion Gesture dengan Google AI Studio dan Gemini Canvas

GURUUPGRADEID • INOVASI PEMBELAJARAN

2 MEDIA AR, 2 PLATFORM AI!

Eksperimen Motion Gesture dengan Google AI Studio dan Gemini Canvas
Sampul 2 Media AR 2 Platform AI Google AI Studio dan Gemini Canvas
Sampul eksperimen dua media pembelajaran AR Motion Gesture.

Bagaimana jika murid bisa belajar dengan mencubit, memilih, dan menggeser objek virtual menggunakan gerakan tangan di depan kamera?

Inilah yang saya eksplorasi melalui pemanfaatan AI untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif berbasis hand tracking dan motion gesture. Setelah membagikan video hasil percobaan, beberapa rekan guru meminta prompt yang saya gunakan. Sesuai janji, saya berbagi dua percobaan dengan materi dan platform berbeda, beserta template prompt yang dapat di-ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).

Uji Coba 1: Misi Pencernaan AR — Google AI Studio, IPA Kelas VIII.
Uji Coba 2: Nusantara AR Gesture Learning — Gemini Canvas, IPAS Kelas V.

1. Apa Itu AR Motion Gesture?

Istilah ini saya gunakan untuk media interaktif yang memanfaatkan kamera dan pengenalan gerakan tangan. Pengguna dapat melakukan pinch (mencubit) untuk memilih objek, drag (menggeser), dan release (melepaskan) objek pada area target. Secara teknis, sistem memakai hand tracking untuk memperkirakan posisi tangan.

Catatan: Contoh ini adalah interaksi objek virtual berbasis kamera; tidak selalu sama dengan augmented reality yang menempatkan objek 3D secara presisi pada lingkungan nyata.

2. Uji Coba 1 — Misi Pencernaan AR dengan Google AI Studio

Mapel: IPA  |  Kelas: VIII SMP/Fase D
Materi: Sistem Pencernaan Manusia
Platform: Google AI Studio
Screenshot Misi Pencernaan AR IPA kelas VIII
Tampilan uji coba Misi Pencernaan AR menggunakan Google AI Studio.

Eksperimen pertama saya lakukan dengan mengembangkan Misi Pencernaan AR untuk membantu murid mengenali organ pencernaan, memahami fungsinya, serta mengurutkan jalannya makanan. Pada aplikasi terdapat kamera pendeteksi tangan, siluet tubuh, dan daftar organ. Pengguna mencubit objek organ, kemudian menggesernya ke posisi yang tepat.

  • Deteksi tangan melalui kamera.
  • Gerakan pinch untuk memilih objek.
  • Tantangan menyusun organ pencernaan.
  • Informasi fungsi organ, kemajuan, dan umpan balik.

Dari percobaan ini, saya belajar bahwa tampilan yang menarik belum tentu berarti seluruh fungsi sudah berjalan. Kamera, deteksi tangan, dan respons objek perlu diuji secara bertahap.

3. Uji Coba 2 — Nusantara AR Gesture Learning dengan Gemini Canvas

Mapel: IPAS  |  Kelas: V SD/Fase C
Materi: Keragaman Rumah Adat Nusantara
Platform: Gemini Canvas
Screenshot Nusantara AR Gesture Learning IPAS kelas V
Tampilan uji coba Nusantara AR Gesture Learning menggunakan Gemini Canvas.

Setelah percobaan pertama, saya mengembangkan Nusantara AR Gesture Learning menggunakan Gemini Canvas. Pengguna memilih kartu rumah adat melalui gerakan mencubit, lalu menyeretnya menuju zona target berdasarkan provinsi yang ditanyakan.

  • Panel kontrol kamera dan sensor gerakan.
  • Kartu pilihan rumah adat beserta pengecoh.
  • Gerakan pinch dan drag.
  • Zona target, level, skor, dan instruksi tantangan.

Kedua media memiliki pendekatan interaksi serupa, tetapi materi, prompt, platform, dan rancangan aktivitasnya berbeda. Jadi, bukan satu prompt identik yang langsung menghasilkan dua aplikasi.

4. Perbandingan Dua Percobaan

AspekUji Coba 1Uji Coba 2
PlatformGoogle AI StudioGemini Canvas
MediaMisi Pencernaan ARNusantara AR Gesture Learning
MapelIPAIPAS
KelasVIII SMPV SD
AktivitasMenyusun organ pencernaanMencocokkan rumah adat
InteraksiHand tracking, pinch, dragHand tracking, pinch, drag

Dua percobaan ini memperlihatkan potensi AI untuk membantu membuat prototipe pembelajaran, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan satu platform lebih unggul. Hasil dipengaruhi prompt, kompleksitas aktivitas, perangkat, dan proses pengujian.

5. Mengembangkan Media dengan Prinsip ATM

Amati: pahami mekanisme interaksi dan alur tantangan dari contoh media.

Tiru: coba terapkan pendekatan teknisnya sebagai latihan.

Modifikasi: sesuaikan tujuan pembelajaran, materi, objek, aturan, tampilan, dan evaluasi.

Contohnya, aktivitas memilih dan menyeret objek dapat digunakan untuk mengurutkan pecahan (Matematika), menyusun struktur teks (Bahasa Indonesia), mengurutkan tahapan wudu (PAI), atau menyusun peristiwa sejarah. Modifikasi bukan sekadar mengganti nama mata pelajaran; aktivitas harus relevan dengan tujuan pembelajaran.

6. Berbagi Template Prompt ATM dan Contoh PAI

Sesuai janji, berikut dokumen yang dapat dijadikan referensi untuk belajar dan mengembangkan prompt sendiri.

A. Template Prompt ATM — Berbagai Mata Pelajaran
Buka Template Prompt ATM ↗
B. Contoh Prompt untuk PAI dan Budi Pekerti
Buka Contoh Prompt PAI ↗
C. Prompt Misi Pencernaan AR — IPA Kelas VIII (Google AI Studio)

Dokumen prompt khusus percobaan pertama: aktivitas menyusun organ sistem pencernaan menggunakan hand tracking, pinch, dan drag.


Buka Prompt Misi Pencernaan AR ↗

Pastikan akses dokumen diatur agar pembaca dapat membukanya, dan periksa ketepatan materi sebelum digunakan bersama murid.

7. Contoh Penerapan dan Perbaikan di Gemini

Dalam pengembangan AI, kamera dapat aktif tetapi gerakan pinch belum tepat, atau objek belum dapat dipindahkan. Karena itu, saya melakukan pengujian dan perbaikan bertahap. Berikut tautan referensi percobaan:

Lihat contoh penerapan prompt dan perbaikan di Gemini ↗

Lihat contoh hasil Gemini ↗

8. Langkah Praktik Membuat Media AR Motion Gesture

  1. Tentukan materi dan tujuan pembelajaran.
  2. Pilih bentuk interaksi, misalnya menyusun atau mencocokkan.
  3. Sesuaikan prompt dengan kelas, materi, dan aktivitas.
  4. Buka Google AI Studio atau Gemini Canvas sesuai kebutuhan.
  5. Periksa tampilan, instruksi, dan akurasi materi.
  6. Uji kamera, deteksi tangan, serta gerakan pinch dan drag.
  7. Perbaiki fungsi yang bermasalah secara spesifik.
  8. Uji kelayakan, aksesibilitas, dan keamanan penggunaan kamera sebelum dipakai murid.

9. Video Tutorial Gemini Canvas

Video berikut khusus memperlihatkan tutorial membuat media AR Motion Gesture menggunakan Gemini Canvas. Eksperimen Google AI Studio dibahas sebagai perbandingan dalam artikel ini.

🎬 Video Tutorial AR Motion Gesture

Pelajari cara mengembangkan aktivitas interaktif dengan gerakan tangan pinch & drag melalui Gemini Canvas.

10. Refleksi: Bukan Sekadar Media yang Menarik

Dari dua percobaan ini, saya semakin memahami bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan bukan hanya tentang membuat aplikasi yang terlihat canggih. Teknologi seharusnya membantu guru merancang pengalaman belajar yang lebih bermakna.

Gerakan tangan, objek virtual, skor, dan animasi memang menarik. Namun, tujuan pembelajaran tetap menjadi dasar utama. Guru tetap perlu menguji fungsi, memeriksa materi, dan menyesuaikan media dengan kebutuhan murid.

Dua media, dua platform, dua materi berbeda memberikan satu pelajaran:
Inovasi pembelajaran tidak berhenti pada prompt pertama. Selamat mencoba, ber-ATM, dan berkarya!

GuruUpgradeID
Belajar • Berkarya • Berbagi • Menginspirasi
Instagram • TikTok • YouTube: @guruupgradeid

Sabtu, 25 Juli 2026

Dari Pengguna Menjadi Pencipta: Perjalanan Guru Mengembangkan Pembelajaran Berbantu AI

Perjalanan guru PAI belajar teknologi dan AI
Kisah Inspiratif • Guru & Teknologi

01Saya Guru Agama, Bukan Ahli Komputer

Saya adalah guru Pendidikan Agama Islam. Saya tidak memiliki latar belakang pendidikan komputer, teknologi informasi, ataupun pemrograman. Istilah seperti kode, basis data, hosting, domain, dan server dahulu terdengar sangat jauh dari kehidupan saya sebagai seorang guru. Namun, saya memiliki satu kebiasaan yang terus mendorong saya untuk belajar: rasa ingin tahu.

Saya senang mencoba hal baru, terutama ketika teknologi tersebut dapat membantu pekerjaan guru. Bagi saya, teknologi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman. Teknologi menjadi alat yang dapat membantu pembelajaran lebih menarik, administrasi lebih tertata, dan pelayanan sekolah lebih mudah diakses. Perjalanan itu tidak dimulai dari keinginan untuk menjadi seorang programmer. Semuanya bermula dari kebutuhan sederhana dalam aktivitas sehari-hari sebagai guru.

Saya ingin membuat media pembelajaran yang tidak hanya berisi tulisan. Saya ingin perangkat pembelajaran dapat disusun lebih efektif. Saya ingin jurnal mengajar tidak sekadar menjadi tumpukan catatan. Saya juga ingin berbagai kegiatan dan layanan sekolah dapat didokumentasikan serta diakses dengan lebih baik. Dari kebutuhan-kebutuhan itulah saya mulai berkenalan lebih dekat dengan teknologi dan kecerdasan artifisial.

02Berawal dari Kebutuhan di Ruang Kelas

Sebagai guru Pendidikan Agama Islam, saya menyadari bahwa tidak semua materi dapat disampaikan hanya melalui ceramah atau teks panjang. Beberapa materi membutuhkan visualisasi, cerita, ilustrasi, video, pertanyaan interaktif, dan aktivitas yang dapat membantu peserta didik memahami konteks pembelajaran.

Materi sejarah perkembangan Islam, misalnya, menjadi lebih menarik ketika disertai gambar, alur perjalanan tokoh, peta, ilustrasi peradaban, atau media interaktif. Peserta didik tidak hanya membaca informasi, tetapi juga memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai materi yang sedang dipelajari. Masalahnya, membuat media seperti itu membutuhkan waktu, ide, kemampuan desain, dan kadang-kadang pengetahuan teknis.

Pada titik inilah saya mulai memanfaatkan kecerdasan artifisial sebagai teman berdiskusi. Saya menggunakannya untuk mencari gagasan, menyusun alur materi, memperbaiki kalimat, merancang aktivitas, membuat pertanyaan, hingga membantu menghasilkan konsep visual.

Namun, saya tidak langsung mengambil semua hasil yang diberikan oleh AI. Setiap materi tetap saya periksa dan sesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakter peserta didik, nilai-nilai keagamaan, serta kondisi sekolah. AI membantu mempercepat proses awal. Guru tetap menentukan hasil akhirnya.

03Belajar dengan Cara Bertanya dan Mencoba

Ketika mulai belajar membuat media dan aplikasi, saya sering tidak mengetahui istilah teknis yang tepat. Saya hanya menjelaskan kebutuhan dengan bahasa sederhana. Saya mengatakan bahwa saya ingin membuat halaman pembelajaran yang memiliki tombol, gambar, materi, dan pertanyaan. Saya ingin data jurnal guru dapat tersimpan. Saya ingin website dapat dibuka dengan baik melalui telepon genggam. Saya ingin membuat portal yang dapat digunakan untuk menghimpun data alumni. Dari percakapan sederhana itu, AI membantu menerjemahkan kebutuhan saya menjadi langkah-langkah yang lebih teknis.

Saya mulai mengenal Visual Studio Code, Google Apps Script, Supabase, Netlify, dan berbagai perangkat pendukung lainnya. Saya belajar menyalin kode, menempatkannya pada bagian yang sesuai, menjalankan halaman, lalu melihat hasilnya. Tentu saja prosesnya tidak selalu berjalan lancar.

Ada halaman yang tidak tampil sesuai harapan. Ada tombol yang tidak berfungsi. Ada data yang gagal tersimpan. Ada tampilan yang terlihat bagus di laptop tetapi berantakan ketika dibuka melalui telepon genggam. Ada pula pesan kesalahan yang pada awalnya sama sekali tidak saya pahami. Ketika hal itu terjadi, saya membaca kembali pesan kesalahan, bertanya, mencoba memperbaiki, kemudian melakukan pengujian ulang.

Dari proses tersebut, saya memahami bahwa AI bukan mesin ajaib yang langsung menghasilkan karya sempurna. AI dapat membantu memberikan arah, tetapi hasil yang baik tetap membutuhkan ketelitian, kesabaran, pengujian, dan kemauan untuk terus memperbaiki.

04Membuat Media Pembelajaran Berbantu AI

Media pembelajaran interaktif PAI kelas XI yang dikembangkan untuk membantu peserta didik belajar secara lebih menarik dan terstruktur.
Media pembelajaran interaktif PAI kelas XI yang dikembangkan untuk membantu peserta didik belajar secara lebih menarik dan terstruktur.

Pemanfaatan teknologi yang paling dekat dengan peran saya adalah pembuatan media pembelajaran. Saya menggunakan AI untuk membantu mengembangkan ide menjadi konsep pembelajaran yang lebih menarik. Materi yang semula hanya berupa teks dapat dikembangkan menjadi tampilan digital yang memadukan gambar, video, navigasi, pertanyaan, dan aktivitas. Tujuannya bukan sekadar agar pembelajaran terlihat modern. Media tersebut harus membantu peserta didik memahami materi, mempertahankan perhatian, serta memberi kesempatan untuk membuka kembali pembelajaran ketika dibutuhkan.

Saya juga memanfaatkan AI dalam penyusunan perangkat ajar dan lembar kerja peserta didik. AI membantu memberikan alternatif struktur, kegiatan, pertanyaan pemantik, dan pilihan redaksi. Setelah itu, saya melakukan penyesuaian berdasarkan capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, alokasi waktu, karakter materi, dan kebutuhan peserta didik. Teknologi mempercepat pekerjaan, tetapi keputusan pedagogis tetap berada di tangan guru.

Menurut saya, hal inilah yang perlu dipahami ketika menggunakan AI dalam pendidikan. Guru tidak cukup hanya mampu memberikan perintah kepada AI. Guru juga harus mampu menilai apakah hasilnya tepat, relevan, aman, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

05Dari Administrasi Manual ke Jurnal Mengajar Digital

PAI Smart Class yang digunakan untuk membantu pengelolaan materi, absensi, nilai, tugas, jurnal, dan rekap pembelajaran.
PAI Smart Class yang digunakan untuk membantu pengelolaan materi, absensi, nilai, tugas, jurnal, dan rekap pembelajaran.

Selain untuk media pembelajaran, saya mulai menggunakan teknologi untuk membantu administrasi guru. Salah satu yang saya kembangkan adalah aplikasi jurnal mengajar. Gagasan ini muncul karena jurnal mengajar memiliki fungsi penting, tetapi pencatatan secara manual terkadang kurang praktis.

Saya ingin jurnal mengajar tidak sekadar menjadi bukti bahwa pembelajaran telah dilaksanakan. Jurnal juga harus dapat membantu guru melihat kembali materi yang telah disampaikan, kehadiran peserta didik, catatan pembelajaran, kendala yang ditemukan, dan tindak lanjut yang perlu dilakukan.

Dengan bantuan AI, saya mulai menyusun kebutuhan aplikasi. Saya menentukan informasi yang perlu dicatat, merancang formulir, mengatur tampilan, dan mempelajari cara menyimpan data. Saya menggunakan Visual Studio Code untuk mengembangkan aplikasinya dan Supabase sebagai salah satu tempat penyimpanan data. Semua itu saya pelajari sambil praktik.

Saya pernah harus mengulang bagian tertentu karena struktur data belum sesuai. Saya pernah menemukan fungsi yang tidak berjalan dan tampilan yang perlu diperbaiki. Namun, setiap kesalahan justru membantu saya memahami cara kerja aplikasi sedikit demi sedikit.

Aplikasi jurnal mengajar tersebut menjadi salah satu bukti bagi diri saya bahwa guru dapat menciptakan alat bantu berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru tidak harus menunggu aplikasi yang sempurna dari pihak lain. Kita dapat memulai dari fungsi sederhana, menggunakannya, mengevaluasi kekurangannya, lalu mengembangkannya secara bertahap.

06Teknologi untuk Mendukung Layanan Sekolah

Beberapa layanan digital sekolah yang dikembangkan untuk mendukung dokumentasi, informasi, dan pelayanan warga sekolah.
Beberapa layanan digital sekolah yang dikembangkan untuk mendukung dokumentasi, informasi, dan pelayanan warga sekolah.

Perjalanan belajar saya kemudian berkembang dari kebutuhan pembelajaran menuju kebutuhan layanan sekolah. Saya mulai membuat berbagai website dan layanan digital yang dapat membantu penyampaian informasi, pengelolaan data, dokumentasi, serta komunikasi dengan warga sekolah.

Salah satu yang saya kembangkan adalah Portal Alumni SMAN 4 Lubuklinggau. Portal tersebut dirancang sebagai ruang untuk menghimpun data alumni, menjaga silaturahmi, berbagi perjalanan setelah lulus, dan membangun jaringan alumni sekolah. Dalam proses pembuatannya, saya belajar mengembangkan halaman pendaftaran, sistem persetujuan data, daftar alumni, profil alumni, unggah foto, serta dashboard pengelolaan.

Saya juga mengembangkan website untuk kegiatan ekstrakurikuler, arsip digital kegiatan sekolah, media dokumentasi, dan berbagai rancangan aplikasi layanan lainnya. Setiap produk berawal dari kebutuhan yang berbeda. Ada yang bertujuan mengenalkan kegiatan sekolah kepada peserta didik. Ada yang membantu menyimpan dokumentasi. Ada yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Ada pula yang dirancang agar layanan tertentu dapat dilakukan dengan lebih tertata.

Walaupun beberapa aplikasi tersebut tidak digunakan secara langsung dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, prosesnya tetap menjadi bagian dari peran saya sebagai pendidik. Sekolah bukan hanya ruang kelas. Sekolah adalah sebuah ekosistem. Informasi yang tertata, dokumentasi yang mudah ditemukan, dan layanan digital yang mudah digunakan dapat mendukung peserta didik, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan alumni.

07Perubahan Terbesar Terjadi dalam Diri Saya

Dari perjalanan ini, perubahan terbesar sebenarnya bukan hanya jumlah media atau aplikasi yang berhasil saya buat. Perubahan terbesar terjadi pada cara saya melihat kemampuan diri sendiri.

Dahulu, ketika melihat kode atau menemukan pesan kesalahan, saya langsung merasa bahwa hal tersebut berada di luar kemampuan saya. Sekarang, saya mencoba melihatnya sebagai masalah yang dapat dipecah menjadi bagian-bagian kecil. Saya mungkin belum memahami semuanya. Namun, saya dapat mempelajari satu bagian terlebih dahulu. Saya dapat bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, kemudian mencoba kembali. Setiap keberhasilan kecil menumbuhkan keberanian untuk mempelajari hal berikutnya.

Saya belajar bahwa tidak memiliki dasar komputer bukan alasan untuk berhenti. Latar belakang pendidikan memang dapat membantu, tetapi kemauan belajar, ketekunan, dan keberanian mencoba juga memiliki peran yang sangat besar. Teknologi membuat saya tidak hanya menjadi pengguna. Saya mulai belajar menjadi perancang solusi.

Saya tidak harus menjadi ahli komputer untuk mulai menciptakan solusi. Saya hanya perlu berani belajar, mencoba, dan terus memperbaiki.

Ketika menemukan kebutuhan, saya tidak lagi hanya mencari aplikasi yang telah tersedia. Saya mulai berpikir: apakah saya dapat membuat alat yang lebih sesuai dengan kondisi sekolah? Apakah tampilannya mudah dipahami? Apakah dapat dibuka melalui telepon genggam? Apakah fitur yang dibuat benar-benar diperlukan?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat proses belajar teknologi terasa lebih dekat dengan tugas saya sebagai guru.

08AI Tetap Membutuhkan Nilai dan Pertimbangan Guru

Sebagai guru Pendidikan Agama Islam, saya menyadari bahwa penggunaan teknologi harus selalu disertai tanggung jawab. AI dapat membantu menyusun materi, tetapi guru harus memeriksa kebenarannya. AI dapat memberikan ide, tetapi guru harus menentukan kesesuaiannya. AI dapat menghasilkan tulisan, desain, atau kode, tetapi guru harus memastikan hasil tersebut tidak bertentangan dengan nilai, etika, dan tujuan pendidikan.

Hal ini semakin penting ketika berkaitan dengan materi keagamaan. Setiap penjelasan perlu diperiksa. Bahasa harus dijaga. Konteks harus diperhatikan. Guru tidak boleh menyerahkan sepenuhnya proses berpikir dan penilaian kepada mesin.

Saya juga semakin memahami pentingnya menjaga data pribadi. Tidak semua informasi boleh dimasukkan ke dalam layanan AI atau ditampilkan melalui website. Dalam mengembangkan layanan digital sekolah, keamanan akun, pengaturan akses, izin pengguna, dan pengelolaan data perlu menjadi perhatian.

Bagi saya, AI tidak menggantikan guru. AI membantu guru memperluas kemampuan. Guru tetap menjadi pihak yang memahami peserta didik, menanamkan nilai, memberikan keteladanan, menentukan tujuan, dan mengambil keputusan. Teknologi dapat membantu membuat media. Namun, makna pembelajaran tetap tumbuh dari interaksi antara guru, peserta didik, materi, dan pengalaman belajar.

09Belajar Tidak Harus Menunggu Menjadi Ahli

Dari perjalanan ini, saya memperoleh beberapa pelajaran.

  1. Pertama, mulailah dari kebutuhan yang benar-benar dirasakan. Produk sederhana yang menyelesaikan masalah akan lebih berguna daripada aplikasi rumit yang tidak digunakan.
  2. Kedua, jangan menunggu sampai merasa ahli. Kemampuan justru tumbuh ketika kita mulai mencoba.
  3. Ketiga, gunakan AI sebagai teman belajar, bukan sebagai jalan pintas untuk menyerahkan seluruh proses berpikir.
  4. Keempat, selalu lakukan pemeriksaan dan penyuntingan. Hasil AI tidak selalu tepat dan belum tentu sesuai dengan kebutuhan kita.
  5. Kelima, jangan takut terhadap kegagalan teknis. Tombol yang tidak berfungsi, tampilan yang berantakan, atau data yang belum terhubung adalah bagian dari proses belajar.
  6. Keenam, dokumentasikan proses dan hasil. Dokumentasi dapat menjadi bahan evaluasi, rekam jejak perkembangan, serta inspirasi bagi orang lain.

Saya tidak beranggapan bahwa setiap guru harus mampu membuat aplikasi. Setiap guru memiliki kebutuhan, kemampuan, dan cara bertumbuh yang berbeda. Ada guru yang memulai dengan membuat presentasi. Ada yang menggunakan AI untuk menyusun pertanyaan. Ada yang membuat video pembelajaran. Ada yang memperbaiki administrasi. Ada pula yang mulai mengembangkan website atau aplikasi sederhana. Tidak harus sama. Yang terpenting adalah teknologi benar-benar digunakan untuk mendukung pendidikan.

10Dari Pengguna, Saya Memilih Terus Bertumbuh

Proses belajar dan pengembangan teknologi dilakukan secara bertahap melalui praktik, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan.
Proses belajar dan pengembangan teknologi dilakukan secara bertahap melalui praktik, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan.

Perjalanan dari pengguna menjadi pencipta telah mengubah cara saya menjalankan peran sebagai guru. Saya tetap seorang guru Pendidikan Agama Islam tanpa latar belakang komputer. Namun, saya tidak lagi melihat keterbatasan itu sebagai penghalang.

Rasa ingin tahu, kemauan belajar, dan bantuan teknologi membuat saya mampu menghasilkan media pembelajaran, membantu administrasi guru, mengembangkan aplikasi jurnal mengajar, serta membangun beberapa layanan digital sekolah.

Apa yang saya hasilkan tentu belum sempurna. Setiap media dan aplikasi masih dapat diperbaiki, dikembangkan, dan disesuaikan. Namun, justru di situlah makna perjalanan ini.

Menjadi pencipta tidak berarti harus mengetahui semuanya. Menjadi pencipta berarti berani memulai, memahami kebutuhan, mencoba membuat solusi, kemudian terus memperbaikinya agar semakin bermanfaat.

Saya percaya guru tidak harus menjadi ahli komputer untuk mulai memanfaatkan teknologi. Guru hanya perlu memiliki keberanian untuk mencoba, kerendahan hati untuk terus belajar, dan komitmen agar setiap inovasi tetap berpihak kepada peserta didik serta kemajuan sekolah.

Dari seorang pengguna, saya memilih terus bertumbuh menjadi pencipta. Bukan untuk meninggalkan peran saya sebagai guru, tetapi untuk menguatkan pengabdian melalui cara-cara baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

#Lombaartikelguru#ArtikelprotasGTK#Gurumenulis#KecerdasanArtifisial#TeknologiPendidikan#GuruPembelajar#GrowthMindset

Minggu, 31 Mei 2026

Membuat Poster Hari Lahir Pancasila

Poster Hari Lahir Pancasila dengan sentuhan budaya daerah
Inspirasi poster Hari Lahir Pancasila dengan memadukan foto pribadi, budaya daerah, dan semangat kebangsaan.
Tutorial AI • Poster Nasional • GuruUpgradeID

Membuat Poster Hari Lahir Pancasila dengan Foto Sendiri Menggunakan ChatGPT

Merayakan Hari Lahir Pancasila dengan Sentuhan Budaya Daerah

Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni merupakan momentum penting untuk menumbuhkan kembali semangat kebangsaan, persatuan, dan kecintaan terhadap Indonesia. Salah satu cara kreatif untuk memeriahkan peringatan ini adalah dengan membuat poster bertema Pancasila yang menampilkan identitas budaya daerah masing-masing.

Kini, dengan bantuan teknologi Artificial Intelligence (AI) di ChatGPT, siapa saja dapat membuat poster profesional hanya dengan mengunggah foto dan menggunakan prompt yang tepat. Hasilnya tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menampilkan kekayaan budaya Nusantara yang beragam.

Mengapa Menggunakan Poster Berbasis AI?

Poster yang dihasilkan AI memiliki beberapa keunggulan:

  • Lebih personal karena menggunakan foto sendiri.
  • Menampilkan identitas budaya daerah secara autentik.
  • Cocok untuk publikasi sekolah, instansi, maupun media sosial.
  • Proses pembuatan cepat tanpa harus menguasai aplikasi desain.
  • Hasil visual berkualitas tinggi dengan gaya sinematik modern.

Cara Membuat Poster Hari Lahir Pancasila di ChatGPT

Langkah-langkahnya sangat mudah:

  1. Buka ChatGPTMasuk ke aplikasi atau website ChatGPT yang sudah mendukung fitur pembuatan gambar.
  2. Pilih Menu “Buat Gambar”Pilih fitur pembuatan gambar (Create Image).
  3. Upload FotoUnggah foto yang ingin dijadikan tokoh utama pada poster.
  4. Salin dan Tempel PromptGunakan prompt yang telah disediakan pada artikel ini.
  5. Tekan EnterTunggu beberapa saat hingga proses generasi gambar selesai.
  6. Unduh dan GunakanPoster siap digunakan dan dibagikan.

Keunggulan Prompt Ini

Prompt dirancang agar dapat digunakan oleh siapa saja di seluruh Indonesia. Anda hanya perlu mengganti bagian nama daerah sesuai asal wilayah masing-masing.

Dengan cara ini, poster akan menampilkan:

  • Rumah adat daerah
  • Pakaian adat
  • Kain tradisional
  • Tarian daerah
  • Alat musik tradisional
  • Kuliner khas
  • Landmark terkenal daerah
Dengan satu prompt yang fleksibel, Anda dapat menghadirkan perpaduan harmonis antara nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal di berbagai daerah di Indonesia.

Prompt ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)

Silakan salin prompt berikut dan ganti bagian yang berada dalam tanda kurung sesuai daerah masing-masing.

Prompt Siap Pakai
Buat poster Hari Lahir Pancasila format vertikal (4:5) dengan karakter yang diunggah sebagai tokoh utama. Karakter mengenakan busana khas daerah asalnya (NAMA DAERAH/PROVINSI).

Latar belakang menampilkan kekayaan budaya daerah (NAMA DAERAH/PROVINSI) seperti rumah adat, kain tradisional, tarian daerah, alat musik tradisional, kuliner khas, serta ikon daerah yang terkenal. Garuda Pancasila tampak menyatu secara elegan di bagian atas poster.

Komposisi menampilkan harmoni antara budaya lokal dan semangat kebangsaan Indonesia. Dominasi warna merah putih dipadukan warna khas budaya daerah. Gaya visual 3D sinematik, detail tinggi, hangat, edukatif, dan membanggakan.

Bagian atas:
"HARI LAHIR PANCASILA"
"1 JUNI 2026"

Judul Utama:
"PANCASILA DALAM KEARIFAN LOKAL"

Subjudul:
"Budaya Daerah, Semangat Indonesia"

Tampilkan unsur budaya khas (NAMA DAERAH/PROVINSI) secara autentik dan detail, termasuk rumah adat, pakaian adat, motif kain tradisional, alat musik, tarian, makanan khas, serta landmark terkenal daerah tersebut. Tambahkan bendera Merah Putih yang berkibar dinamis, pencahayaan keemasan sinematik, suasana nasionalisme yang kuat, komposisi poster profesional, ultra detailed, cinematic lighting, masterpiece, premium 3D render, high quality national celebration poster.

Penutup

Teknologi AI membuka peluang baru bagi guru, siswa, dan masyarakat untuk membuat media visual yang menarik sekaligus bermakna. Melalui poster Hari Lahir Pancasila berbasis budaya daerah, kita tidak hanya memperingati lahirnya dasar negara, tetapi juga merayakan keberagaman Indonesia yang menjadi kekuatan bangsa.

Selamat mencoba dan semoga karya Anda dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk semakin mencintai Pancasila dan budaya Indonesia.

Salam Merdeka!

Poster & Prompt AI: @guruupgradeid | Hari Lahir Pancasila 2026 🇮🇩

Sabtu, 16 Mei 2026

AI yang Kerjakan atau Kamu? Refleksi Seorang Guru tentang Pembelajaran di Era Kecerdasan Buatan

Sampul refleksi guru: AI yang Kerjakan atau Kamu?
Refleksi Guru • Pendidikan & AI

AI yang Kerjakan atau Kamu?

Refleksi Seorang Guru tentang Pembelajaran di Era Kecerdasan Buatan

Ika Lathifah, S.Pd.I, M.Pd
Penulis • GuruUpgradeID

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Hari ini, siswa dapat mencari informasi dalam hitungan detik, membuat presentasi yang menarik, bahkan menyusun tugas dengan bahasa yang rapi dan terlihat profesional. Teknologi hadir mempermudah banyak hal, termasuk dalam proses belajar. Sebagai guru, tentu saya merasa bahagia melihat peserta didik semakin dekat dengan dunia digital dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Namun di balik kemudahan itu, saya mulai menyadari sebuah perubahan yang menarik perhatian. Beberapa waktu terakhir, tugas siswa terlihat sangat sempurna. Kalimatnya tersusun rapi, analisisnya mendalam, dan pilihan katanya terdengar sangat “dewasa”. Sekilas, hasil tersebut tampak membanggakan. Akan tetapi, ada sesuatu yang terasa berbeda. Tulisan itu tidak lagi terdengar seperti suara mereka sendiri.

Sebagai guru, saya mengenal karakter siswa-siswa saya. Saya tahu bagaimana cara mereka berbicara, bagaimana mereka mengekspresikan ide, bahkan bagaimana gaya mereka menyampaikan pendapat di kelas. Ketika saya membaca beberapa tugas yang begitu seragam, saya mulai bertanya dalam hati: “Apakah mereka benar-benar belajar, atau hanya menyerahkan proses berpikir kepada AI?”

Pertanyaan itu membuat saya merenung cukup lama. Di satu sisi, teknologi memang tidak bisa dihindari. Dunia akan terus berubah dan pendidikan tidak mungkin berjalan dengan cara lama selamanya. Namun di sisi lain, saya juga menyadari bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya tentang hasil akhir yang terlihat sempurna. Pendidikan adalah tentang proses berpikir, proses memahami, proses mencoba, gagal, lalu belajar kembali.


Akhirnya, pada suatu pertemuan di kelas, saya mencoba membuka diskusi sederhana dengan siswa. Saya tidak ingin langsung melarang atau menghakimi mereka. Saya hanya bertanya dengan jujur, “Siapa yang menggunakan AI untuk membantu mengerjakan tugas?”

Kelas mendadak hening. Sebagian siswa menunduk, beberapa saling melihat satu sama lain. Setelah beberapa detik, perlahan ada tangan yang terangkat. Lalu disusul tangan-tangan lainnya. Saya bisa melihat keraguan dan ketakutan di wajah mereka. Mungkin mereka mengira akan dimarahi atau dianggap malas belajar.

Tetapi saya justru tersenyum.

Saya mengatakan kepada mereka bahwa AI bukan musuh. Teknologi hanyalah alat. Yang perlu diperhatikan bukan sekadar boleh atau tidak menggunakannya, melainkan bagaimana cara menggunakannya dengan bijak. Saya tidak ingin siswa takut terhadap teknologi, tetapi saya juga tidak ingin mereka kehilangan kemampuan berpikir karena terlalu bergantung pada jawaban instan.

Lalu saya mengajukan satu pertanyaan yang kemudian membuat suasana kelas berubah menjadi lebih reflektif.

“Kalau AI bisa menulis tugas, lalu apa yang membuat manusia tetap penting?”

Kelas kembali sunyi. Namun kali ini sunyinya berbeda. Mereka mulai berpikir.

Seorang siswa menjawab pelan, “Karena manusia punya perasaan, Bu.”

Yang lain menambahkan, “Karena manusia punya pengalaman hidup.”

Ada juga yang berkata, “Karena manusia bisa memahami makna, bukan hanya memberi jawaban.”

Saat itu saya merasa lega. Saya sadar bahwa mereka sebenarnya memahami nilai penting menjadi manusia. Mereka hanya hidup di zaman yang menawarkan segala sesuatu dengan cepat dan instan. Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat penting: bukan sekadar mengajarkan pengetahuan, tetapi membantu siswa menemukan makna dalam proses belajar.


Saya percaya AI seharusnya digunakan untuk memperdalam pembelajaran, bukan menggantikan usaha. Teknologi dapat membantu siswa mencari referensi, memahami konsep yang sulit, menemukan sudut pandang baru, bahkan memicu kreativitas. Namun teknologi tidak boleh membuat mereka berhenti berpikir.

Karena sejatinya, kemampuan yang paling dibutuhkan di masa depan bukan hanya kemampuan menjawab soal, tetapi kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, berempati, dan memecahkan masalah nyata dalam kehidupan.

Sejak diskusi itu, saya mulai mengubah beberapa pendekatan pembelajaran di kelas. Saya tidak lagi hanya fokus pada hasil akhir tugas siswa. Saya ingin mendengar bagaimana proses mereka menemukan jawaban. Saya meminta mereka menjelaskan sumber informasi yang digunakan, alasan memilih suatu pendapat, hingga bagaimana mereka memaknai pelajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Perubahan kecil itu ternyata membawa dampak yang besar. Siswa mulai lebih berani berdiskusi dan menyampaikan ide dengan bahasa mereka sendiri. Mereka tidak lagi hanya mengejar tugas selesai, tetapi mulai menikmati proses belajar. Mereka juga menjadi lebih terbuka tentang bagaimana mereka menggunakan AI. Ada yang memakai AI untuk mencari inspirasi, ada yang menggunakannya untuk memahami materi, dan ada pula yang memanfaatkannya untuk melatih kemampuan menulis.

Di situlah saya semakin yakin bahwa pendidikan di era digital membutuhkan growth mindset. Siswa perlu memahami bahwa kecerdasan bukan tentang siapa yang paling cepat menghasilkan jawaban sempurna. Kecerdasan adalah tentang kemauan untuk terus belajar, mencoba, memperbaiki diri, dan berkembang.

Teknologi memang akan terus berkembang. Bahkan mungkin beberapa tahun ke depan AI akan menjadi jauh lebih canggih daripada hari ini. Namun secanggih apa pun teknologi, tetap ada hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin: empati, nilai kehidupan, pengalaman manusia, kreativitas yang lahir dari perjuangan, serta kemampuan untuk memahami makna di balik setiap proses.

Sebagai guru, saya percaya tugas kita bukan melawan perkembangan teknologi. Tugas kita adalah membimbing generasi muda agar mampu menggunakan teknologi dengan bijak tanpa kehilangan jati dirinya sebagai manusia.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang siapa yang mampu membuat tugas paling sempurna. Pendidikan adalah tentang siapa yang benar-benar belajar, bertumbuh, dan menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya.

Minggu, 04 Januari 2026

Cara Membuat Jurnal Digital Mata Pelajaran Menggunakan AI Canva: Panduan Lengkap untuk Guru

Contoh tampilan jurnal digital mata pelajaran yang dibuat dengan bantuan Canva AI.
Contoh tampilan jurnal digital mata pelajaran yang dibuat dengan bantuan Canva AI.
Tutorial AI • Administrasi Guru • GuruUpgradeID

Membuat Jurnal Digital Mata Pelajaran dengan Canva AI

Dari prompt menjadi aplikasi jurnal nilai, absensi, dan catatan mengajar.

Halo, para guru hebat! Di era digital seperti sekarang, mengelola jurnal nilai, absensi, dan catatan harian mengajar bisa lebih mudah dan efisien dengan bantuan teknologi. Salah satu alat yang dapat dicoba adalah Canva AI, khususnya fitur pembuatan kode, untuk merancang aplikasi web sederhana melalui instruksi teks tanpa harus menulis seluruh kode dari awal.

Dalam artikel ini, saya membagikan cara membuat jurnal digital mata pelajaran, misalnya PAI atau mata pelajaran lain. Prompt yang digunakan dapat disalin melalui dokumen Google Docs dan dimodifikasi sesuai kebutuhan, seperti mengganti mata pelajaran atau menambah fitur.

Rancangan prompt mencakup mode guru dan siswa, pengelolaan nilai, absensi, jurnal harian mengajar, serta sidebar navigasi seperti e-rapor. Penyimpanan data menggunakan Canva Sheets perlu disesuaikan dengan fitur integrasi yang tersedia pada akun dan hasil aplikasi. Yuk, ikuti langkah-langkahnya!

Mengapa Menggunakan Canva AI untuk Jurnal Digital?

Canva AI dapat membantu guru membuat prototipe aplikasi dengan lebih cepat. Tampilannya bisa dirancang agar nyaman dibuka di HP maupun laptop, lalu dikembangkan berdasarkan kebutuhan mengajar. Ketersediaan fitur, kuota, publikasi, dan penyimpanan data dapat berbeda menurut paket Canva dan perubahan layanannya.

Catatan penting: Jangan langsung memasukkan data pribadi siswa ke prototipe yang belum diuji. Periksa terlebih dahulu akses guru dan siswa, keamanan data, serta apakah penyimpanan benar-benar persisten dan berjalan sesuai kebutuhan.

Langkah-Langkah Membuat Jurnal Digital di Canva AI

01

Buka Canva dan Masuk ke Canva AI

Tampilan awal Canva untuk memulai pembuatan aplikasi.
Tampilan awal Canva untuk memulai pembuatan aplikasi.

Buka Canva di browser. Jika belum memiliki akun, daftar atau masuk menggunakan email maupun akun Google. Pada halaman awal, cari Canva AI untuk memulai.

02

Pilih Opsi “Code” atau “Kode”

Area Canva AI untuk memilih pembuatan berbasis kode.
Area Canva AI untuk memilih pembuatan berbasis kode.

Di Canva AI, pilih opsi pembuatan berbasis kode atau aplikasi (nama menu dapat berubah). Temukan kotak prompt tempat Anda akan memasukkan instruksi aplikasi.

03

Masukkan Prompt yang Sudah Disiapkan

Salin prompt lengkap dari Google Docs. Dokumen tersebut berisi poin-poin fitur seperti mode akses, kelas, nilai, absensi, sidebar, dan jurnal harian mengajar.

Buka & Salin Prompt Google Docs ↗
Contoh proses memasukkan prompt dan menghasilkan rancangan aplikasi.
Contoh proses memasukkan prompt dan menghasilkan rancangan aplikasi.

Jika prompt terlalu panjang: Masukkan bagian awal terlebih dahulu, misalnya sampai poin 8. Setelah aplikasi awal terbentuk, lanjutkan dengan fitur pada poin berikutnya. Ikuti urutan poin yang benar-benar tersedia dalam dokumen.

Contoh prompt lanjutan:

Tambahkan fitur berikut ke aplikasi yang sudah dibuat. Pertahankan seluruh fitur yang sudah berfungsi, lalu integrasikan jurnal harian mengajar, pengelolaan data, dan penyempurnaan tampilan sesuai poin lanjutan pada dokumen prompt.

Anda juga dapat mengganti istilah “mata pelajaran” dengan “PAI” atau mata pelajaran lain sesuai kebutuhan.

04

Cek Hasil dan Perbaiki Jika Belum Sesuai

Setelah Canva AI membuat aplikasi, buka pratinjau dan periksa setiap fitur. Jika absensi belum muncul atau tampilan belum responsif, masukkan instruksi perbaikan, lalu uji kembali.

Tambahkan tombol hapus siswa pada mode guru. Pastikan hanya guru yang berwenang dapat menggunakannya dan tampilkan konfirmasi sebelum menghapus.

Contoh lain: “Ubah warna sidebar menjadi hijau lebih tua dan pastikan navigasi tetap nyaman digunakan pada layar HP.”

05

Tambahkan Gambar Latar atau Elemen Visual

Untuk mempercantik tampilan, siapkan gambar bertema pendidikan atau motif geometris. Anda dapat memakai gambar yang diizinkan untuk digunakan, lalu menyimpannya di layanan hosting gambar yang sesuai, misalnya ImgBB atau Freeimage.host.

Salin tautan langsung gambar, kemudian masukkan instruksi berikut:

Tambahkan background gambar dengan URL ini: [TAUTAN GAMBAR]. Buat background memenuhi layar (cover), gunakan overlay putih semi-transparan agar teks mudah dibaca, dan pastikan tampilan responsif.

Periksa kembali tampilan setelah proses generasi selesai.

Tips Memodifikasi Prompt Sendiri

  • Sesuaikan fitur: salin prompt dari Google Docs, lalu tambahkan kebutuhan seperti perhitungan rata-rata nilai atau perubahan nama mata pelajaran.
  • Ekspor PDF: coba instruksi “Tambahkan tombol ekspor nilai dan absensi ke PDF menggunakan jsPDF.” Uji hasil ekspor sebelum digunakan.
  • Uji lintas perangkat: periksa aplikasi di HP dan laptop, termasuk tombol, navigasi, dan tampilan tabel.
  • Perhatikan keamanan: jangan mengandalkan password default; uji autentikasi, izin akses, dan penyimpanan data sebelum dipakai untuk data siswa sungguhan.

Penutup

Dengan langkah-langkah tersebut, Anda dapat mulai membuat prototipe jurnal digital yang disesuaikan dengan kebutuhan mengajar. Waktu pengerjaan dan fitur yang berhasil dibuat bergantung pada kompleksitas prompt, kemampuan layanan, serta pengujian dan perbaikan yang dilakukan.

Selamat mencoba! Semoga tutorial ini membantu pekerjaan administrasi guru menjadi lebih tertata. Jika ada kendala atau pengalaman menarik, silakan bagikan di kolom komentar. 😊

Cara Membuat Video Gratis dengan AI (ChatGPT, Grok, ElevenLabs, CapCut)

Sampul tutorial membuat video AI menggunakan ChatGPT, Grok, ElevenLabs, dan CapCut.
Sampul tutorial membuat video AI menggunakan ChatGPT, Grok, ElevenLabs, dan CapCut.
Tutorial AI • Video Edukasi • GuruUpgradeID

Cara Membuat Video dengan AI: ChatGPT, Grok, ElevenLabs, dan CapCut

Panduan membuat video edukasi, storytelling, dan konten media sosial menggunakan empat alat AI.

Di era digital saat ini, membuat video tidak lagi harus mahal atau rumit. Dengan bantuan Artificial Intelligence (AI), guru, pelajar, kreator konten, dan pegiat edukasi dapat mengubah ide menjadi video yang menarik tanpa harus menguasai seluruh keterampilan produksi dari awal.

Pada artikel ini, saya membagikan alur membuat video dengan bantuan ChatGPT untuk konsep dan naskah, Grok untuk visual bergerak, ElevenLabs untuk voice-over, serta CapCut untuk penyuntingan akhir. Beberapa layanan menawarkan akses gratis dengan batasan atau kuota yang dapat berubah.

Mengapa Menggunakan AI untuk Membuat Video?

AI dapat membantu mempercepat proses kreatif, terutama saat kita baru memulai produksi konten.

  • Menghemat waktu saat menyusun ide dan naskah.
  • Memudahkan pengguna yang belum mahir mengedit video.
  • Membantu membuat konten edukatif dan kreatif.
  • Cocok untuk video pendek seperti Reels, Shorts, dan TikTok.
  • Beberapa alat menyediakan opsi penggunaan gratis atau uji coba, sesuai kebijakan masing-masing.
Satu ide dapat dikembangkan menjadi storyboard, visual, narasi, dan video siap dibagikan—tetapi setiap tahap tetap perlu ditinjau dan disunting.

Alur Pembuatan Video dengan AI

01 ChatGPT02 Grok03 ElevenLabs04 CapCut
01

Membuat Konsep dan Prompt dengan ChatGPT

Langkah pertama adalah menyusun konsep video. Di ChatGPT, kita dapat meminta rancangan prompt gambar, prompt animasi, arahan musik dan efek suara (SFX), serta naskah voice-over pada setiap adegan.

  • Prompt gambar atau visual
  • Prompt animasi setiap adegan
  • Arahan musik dan efek suara (SFX)
  • Naskah voice-over atau narasi

Contoh permintaan:

“Buatkan prompt gambar dan animasi untuk video edukasi sejarah Islam, lengkap dengan arahan musik dan voice-over di setiap scene, untuk total durasi 3 menit. Setiap scene memiliki durasi sekitar 8 detik. Sesuaikan pembagian adegan agar durasi akhir tepat 3 menit.”

ChatGPT membantu menyusun naskah dan storyboard secara terstruktur. Periksa kembali fakta sejarah dan sumber rujukan sebelum produksi.

Contoh tampilan perencanaan konsep, storyboard, atau prompt menggunakan ChatGPT.
Contoh tampilan perencanaan konsep, storyboard, atau prompt menggunakan ChatGPT.
02

Membuat Visual Video Menggunakan Grok

Setelah prompt disiapkan, lanjutkan ke Grok. Jika fitur generasi video tersedia pada akun Anda, pilih mode video atau animasi lalu masukkan instruksi visual.

  • Buka Grok dan cari fitur pembuatan video.
  • Masukkan prompt visual dan animasi sesuai adegan.
  • Tambahkan arahan suasana, gerak kamera, dan SFX jika fitur mendukung.
  • Buat klip per adegan, lalu periksa konsistensi karakter dan durasinya.

Fokus pada kualitas visual dan gerakan. Jika audio dari generator belum sesuai, suara dapat ditambahkan pada tahap selanjutnya.

Contoh tampilan pembuatan klip visual dengan Grok.
Contoh tampilan pembuatan klip visual dengan Grok.
03

Membuat Voice-Over dengan ElevenLabs

Supaya video lebih hidup, siapkan narasi menggunakan ElevenLabs.

  • Masuk ke ElevenLabs dan cari fitur Text to Speech.
  • Pilih suara yang sesuai dengan karakter video.
  • Pilih model yang mendukung Bahasa Indonesia, jika tersedia.
  • Tempel naskah narasi dari ChatGPT.
  • Hasilkan audio, dengarkan, dan perbaiki pelafalan atau intonasi sebelum digunakan.

Audio narasi yang jelas akan membantu penonton memahami isi video. Periksa ketentuan lisensi suara dan penggunaan komersial sesuai paket layanan.

Contoh tampilan ElevenLabs untuk membuat narasi suara.
Contoh tampilan ElevenLabs untuk membuat narasi suara.
04

Finishing Video Menggunakan CapCut

Tahap terakhir adalah menyatukan semua elemen dalam CapCut. Anda dapat mengedit lewat perangkat yang didukung, termasuk HP.

  • Gabungkan klip video hasil generasi.
  • Tambahkan voice-over dari ElevenLabs.
  • Masukkan musik latar dan efek suara yang memiliki izin penggunaan.
  • Sesuaikan durasi klip, transisi, dan sinkronisasi narasi.
  • Tambahkan teks, judul, subtitle, dan penekanan poin penting.

Putar ulang hasil akhir untuk memeriksa keterbacaan teks, kualitas suara, dan kesinambungan antaradegan.

Contoh proses penyuntingan dan penyatuan video di CapCut.
Contoh proses penyuntingan dan penyatuan video di CapCut.

Hasil Akhir: Video Edukatif Siap Publikasi

Dengan alur ini, kita dapat mengembangkan berbagai jenis konten:

  • Video edukasi dan pembelajaran
  • Video storytelling
  • Video sejarah
  • Video tutorial
  • Konten media sosial sekolah

Tips sebelum publikasi: Pastikan informasi dalam video akurat, aset gambar dan musik boleh digunakan, dan izin penggunaan foto atau suara orang lain sudah diperoleh bila diperlukan. Untuk sejarah Islam, periksa kesesuaian sumber serta hindari visualisasi tokoh atau hal gaib secara spekulatif.

Penutup

Teknologi AI bukan untuk menggantikan kreativitas manusia, melainkan membantu mempercepat proses berkarya. Dengan kombinasi ChatGPT, Grok, ElevenLabs, dan CapCut, kita dapat mulai menghasilkan video yang lebih terencana, sekalipun baru belajar dari nol.

Semoga tutorial ini bermanfaat dan menginspirasi Anda untuk mulai berkarya dengan AI. Selamat mencoba! 🚀

Kamis, 16 Oktober 2025

Pemanfaatan AI Canva untuk Membuat Website Mini Pembelajaran

Guru membuat website mini pembelajaran menggunakan Canva AI
Tutorial AI • Media Pembelajaran • GuruUpgradeID

Pemanfaatan Canva AI untuk Membuat Website Mini Pembelajaran

Tutorial praktis membuat website bahan ajar interaktif dengan bantuan AI, disertai contoh PAI kelas XI: Menebarkan Islam dengan Damai.

Pengantar

Dengan fitur pembuatan kode berbantuan AI di Canva, guru dapat mencoba membuat website mini pembelajaran tanpa harus menulis kode dari awal. Website ini dapat dirancang untuk menampilkan tujuan pembelajaran, materi, aktivitas, tugas, hingga refleksi.

Pendekatan ini cocok untuk membuat bahan ajar digital yang dapat diakses siswa melalui perangkat yang didukung. Guru tetap perlu memeriksa isi, fungsi tombol, serta tampilan sebelum membagikannya.

Ide utamanya: Satu prompt yang jelas dapat menjadi titik awal website pembelajaran dengan navigasi, materi, tugas, dan refleksi yang terstruktur.

Langkah Membuat Website dengan Canva AI

Berikut alur praktik yang dapat dicoba. Nama menu dapat berbeda sesuai versi dan ketersediaan fitur pada akun Canva.

01
Buka Canva AIMasuk ke Canva, lalu cari fitur Canva AI dan opsi pembuatan kode (misalnya Canva Code / Code for Me jika tersedia).
02
Tulis prompt websiteJelaskan mata pelajaran, kelas, tujuan, struktur menu, gaya visual, dan aktivitas interaktif yang diinginkan.
03
Jalankan generasiKirim prompt, tunggu proses pembuatan, lalu buka pratinjau hasilnya.
04
Uji dan revisiPeriksa tombol, navigasi, ketepatan materi, keterbacaan di HP, dan aktivitas siswa. Berikan instruksi perbaikan jika diperlukan.
05
Publikasikan dan bagikanJika hasil sudah sesuai, gunakan opsi desain atau publikasi website yang tersedia. Salin tautan dan, bila perlu, buat QR code untuk siswa.
Catatan: Website hasil AI perlu diuji sebelum digunakan di kelas. Fitur penyimpanan jawaban, login, dan penilaian otomatis tidak boleh diasumsikan berfungsi hanya karena tampilannya sudah tersedia.

Contoh Prompt untuk Semua Guru

Gunakan prompt berikut sebagai dasar, lalu sesuaikan nama mata pelajaran, kelas, dan isi pembelajarannya.

PROMPT UMUM • SIAP DISALIN
Create an educational mini website titled "Projek Kelas Kreatif" in Indonesian language with 6 sections:
1. Halaman Judul
2. Ice Breaking
3. Tujuan Pembelajaran (Inquiry Learning)
4. Materi
5. Tugas Siswa
6. Refleksi dan Penutup

Design the website with a modern classroom theme, bright colors, and easy navigation for students.
Add motivational quotes and interactive buttons for each section.
Make it mobile-friendly.
Ensure every navigation button works and the text is easy to read on a smartphone.

Contoh Spesifik: PAI Kelas XI

Contoh berikut berfokus pada pembelajaran dakwah yang mengedepankan hikmah dan sikap damai. Rujukan QS. An-Nahl ayat 125 relevan untuk membahas ajakan dengan hikmah dan pengajaran yang baik.

PROMPT PAI • SIAP DISALIN
Create a mini educational website in Indonesian language titled:
"Menebarkan Islam dengan Damai melalui Khutbah, Dakwah, dan Tabligh"

Theme: Pendidikan Agama Islam kelas XI SMA
Style: modern Islamic learning interface with pastel green and gold accents.

Include the following menu sections:
1. Halaman Judul – Judul besar dan subjudul; cantumkan nama guru dan sekolah.
2. Ice Breaking – Kuis "Aku bukan perang, tapi menyatukan…" (jawaban: DAKWAH).
3. Tujuan Pembelajaran – kaitkan dengan QS. An-Nahl: 125 (hikmah dan nasihat yang baik).
4. Materi – pengertian khutbah, dakwah, dan tabligh; prinsip dakwah damai; contoh di sekolah dan media sosial.
5. Tugas Inquiry – telusuri tokoh dakwah damai di Indonesia, analisis pendekatannya, dan tuliskan refleksi.
6. Refleksi & Penutup – "Dakwah bukan hanya di mimbar, tapi juga dalam tutur kata dan perbuatan."

Make the interface responsive, the menu buttons functional, and the learning activities clear for grade XI students.
Do not invent Qur'anic quotations or religious references; use verified sources.
Pengingat untuk guru PAI: Periksa kembali ayat, penjelasan keagamaan, dan contoh materi sebelum digunakan dalam pembelajaran. AI dapat membantu merancang media, tetapi validasi materi tetap menjadi tanggung jawab guru.

Hasil dan Manfaat

Website mini pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat memberi manfaat berikut:

  • ✓Materi, tujuan, aktivitas, dan refleksi tersusun dalam satu tempat.
  • ✓Navigasi sederhana memudahkan siswa menjelajahi materi.
  • ✓Guru dapat menghemat waktu penyusunan rancangan awal media.
  • ✓Materi dapat digunakan sebagai pendukung belajar mandiri, setelah akses dan fungsinya diuji.

Refleksi

“AI tidak menggantikan guru; AI membantu memperluas kreativitas dan efisiensi pembelajaran. Guru tetap menentukan tujuan, memeriksa isi, dan mendampingi proses belajar.”

Ayo Praktik!

Pilih salah satu prompt, sesuaikan dengan mata pelajaran Anda, lalu coba buat website mini di Canva. Setelah selesai, uji di HP dan laptop sebelum membagikan tautan atau QR code kepada siswa.

#GuruUpgradeID #DIGMA #AICanva #BelajarKreatif